REVIEW BUKU

SENJA di POKHARA


      Malam minggu kali ini ditemani 2 novel terbaru dari teman-teman komunitas menulis di dunia maya. Dan kedua buku ini datang tadi sore secara bersamaan. Jadi bingung kan mau mana duluan  yang di baca. Tapi setelah menggunakan jurus cap cip cup kembang kuncup, maka pilihan pertama jatuh di buku ini.
Awas terhanyut dengan alur cerita yang manis ini yaaa.




Judul Buku  : Senja di Pokhara
Penulis         : Susi Hendarti
Tebal Halaman   :185 halaman
Penerbit        : Jejak Publisher
Harga            : Rp 45.000,-





BLURB

" Hiduplah dengan impian , karena impian yang akan membawamu melintasi kemustahilan, menembus ragu, batas, waktu, dan ruang "

www.kaskus.co.id
Bagaimana kita mampu bertahan bertahun-tahun dengan mimpi yang sama, membawa dan memupuknya rapi dalam ingatan, melontarkannya ke langit dalam bentuk doa. 
Pertarungan bukan semata dalam ikhtiar, namun pada sepertiga malam terakhir, saat kita perlu bernegosiasi pada Sang Pemilik Kehidupan.


www.arrisalah.net

Merawat impian dari sesederhana mencoret, menempel dan menyimpan semua  artikel yang berhubungan, menjaga konsistensi dalam berdoa dan ikhtiar, lalu melanjutkan hidup. 
Biarkan takdir menemukan kita berada di ujung segala mimpi.


Impian Nahda mungkin sederhana, tapi dia sanggup bertahan dan konsisten berdoa  untuknya. Bahkan ketika dibenturkan pada siapa dia berbakti, dia memilih tidak mengeluh dan tetap mencintai orang yang menentangnya. Namun dia secara elegan, merayu langsung pada pemilik bumi.
Katakan saja sejauh apa impian, semustahil apa keinginan. 
Jika Allah telah berkata "Kun" maka siapa yang sanggup menolak kedatangan takdir Nya.


REVIEW

        Tokoh utama disini bernama Nahda. Ia memiliki impian suatu saat bisa mengunjungi negara Nepal. Ya,  Nepal!  Negara yang sangat jarang masuk ke dalam "travel wishlist" orang kebanyakan.  Bahkan saya pun terpaksa harus googling dimana sebenarnya Nepal itu berada .



           Novel ini mengisahkan tentang impian masa kecil yang ditertawakan. Impian seorang bocah yang dianggap angin lalu. Impian yang muncul dari sebuah pertanyaan sederhana seorang Nahda, 
" Aku tahu ini konyol, tapi tahukah kamu kenapa Nepal memakai bendera segitiga? Kupikir itu menyulitkan penjahitnya."

www.internasional.kompas.com
Saya tidak tahu apakah Nahda tetap ingin ke Nepal jika bentuk benderanya tidaklah segitiga . LOL :D


Nahda, si pemimpi itu.. 
Setelah perjuangannya membuahkan hasil, saat impian sudah di depan mata.. 
Ia memilih merelakan impian yang hendak nyata itu lebur demi bakti seorang anak pada ibu. 

Nahda,  si pemimpi itu..  
Bahkan sempat merelakan sisa hidupnya terjalin dengan perjodohan demi senyuman indah mengembang di bibir kedua orangtua nya. 

www.rumahzakat.org


Nahda , si pemimpi itu..
Jujur saya iri padanya akan baktinya pada orangtua, akan keikhlasan dan kepasrahan  yang selalu ia tumpahkan melalui sujud-sujud di malam hari. 
Pertarungan di sepertiga malam.
Saya menyukai kalimat itu.


Allah selalu melihat hati yang tulus.
Allah selalu memberi jalan terbaik bagi anak yang berbakti.
Melalui tanganNya lah semua impian yang hampir nyata lalu lebur itu muncul kembali. Dengan cara yang jauh lebih indah dari yang pernah dibayangkan.
Sungguh Allah Maha Mengetahui yang terbaik untuk hamba Nya.

Novel ini terasa sangat ringan namun menyesakkan dada.
Nepal, Kathmandu, Pokhara.
India, Delhi, Shimla
Jogja
Nama kota yang akan membawa impian itu Nahda menemukan tuannya.
Shimla by www.khagta.com

Kalimat demi kalimat yang ringan namun bermakna membuat saya seperti sedang menelan cemilan cemilan "spicy crunchy", ringan, cepat, lahap dan tau tau sudah habis menyisakan tangis.



Selamat untuk mba Susi Hendarti,
anda berhasil memporakporandakan hatiku.
Anda berhasil membuat saya menitikkan air mata kala membaca tulisan Nahda yang berikut ini:

... tapi apa yang bisa kulakukan saat Ayah tak bisa kutinggalkan dan Ibu tak bisa memberiku ridho. Aku terlalu mencintai mereka, bahkan impianku masih terlalu kecil dibandingkan besar kasih sayang keduanya. Maka Rabb, jika takdirku tak beranjak dari sini, hamba mohon tuliskanlah satu kebaikan untukku karena memilih Ayah dan Ibuku, daripada menjemput impianku !


Ahhh, pokoknya meleleh baca novel ini. 
Belum lagi momen romantis yang dihadirkan Hamzaa kepada Nahdaa di ending cerita
..." Maka ketika kau bilang akan menikah, aku tidak berlari menujumu, tapi aku berlari menuju yang maha mempunyaimu, yang punya takdir atasmu dan yang maha menggenggam kehidupanmu"

Melted....
Baperrrr...
Melow...

Udah deh, pokoknya novel ini recomended banget buat kamu yang mau bacaan ringan dan penuh makna.


CURHATAN PEMBACA

Berhubung ini blog nya si bundo sendiri, beli buku sendiri, bayar sendiri, nge review sendiri tanpa unsur paksaan sana - sini, jadi bolehlah ya Bundo sisipin sepatah dua patah kata alias numpang curhat sedikit disini yaa.


(Masih) Tentang Mimpi
:: dhikasuhada ::

Membaca novel Senja di Pokhara ini membuat ingatan ku terbang mundur jauh ke belakang. Saat usia masih belia. Saat mimpi-mimpi mulai berdatangan lalu tanpa kusadar telah menjulang tinggi menggedor gedor selaput otakku memohon celah untuk diwujudkan... 


Tapi, Aku tak sekuat Nahda.
Aku tak punya mba Nungki dan mas Damar yang membelaku.. yang turut memperjuangkan mimpiku.. yang menjagaku.
Dan aku yakin bahkan orangtua dan saudara saudaraku tak tau apa impian ku, hingga detik ini.

Beruntunglah Nahda berbekal iman yang kuat sejak kecil.
Beruntunglah Nahda memupuk mimpinya, merawat mimpinya hingga akhirnya mampu memetik hasilnya. Mimpinya terwujud dengan indah.
Beruntunglah Nahda mampu melakukan pertarungan bukan semata dalam ikhtiar, namun pada sepertiga malam terakhir, saat kita perlu bernegosiasi pada Sang Pemilik Kehidupan.

www.sahabatdarihati.wordpress.com
Dulu,
saat mimpiku membuncah
tak ada tangan yang mendorongku melakukan pertarungan di sepertiga malam terakhir.
Aku iri padamu, Nahda.

Dan kini, 
Seiring berjalannya waktu, bergulirnya nasib, berputarnya roda kehidupan
Aku akan turun ke medan pertarungan itu,Nahda.
Di sepertiga malam terakhir
Memperjuangkan sisa sisa mimpi masa muda ku

Ini bukan kisah mengejar sosok Hamzaa di negri sebrang
Karena aku sudah memiliki Hamzaa ku disini

Ini tentang harmoni alam yang diijabah Allah 
Ini tentang keteguhan hati 
Ini tentang keikhlasan tak bertepi
Ini (masih) tentang impian 
Ini tentang semua yang akan indah pada waktunya

www.reneemiraile.wordpress.com

www.pemimpinibupertiwi.wordpress.com

Hiduplah dengan impian,  karena impian yang akan membawamu melintasi kemustahilan,  menembus ragu,  batas,  waktu dan ruang.


Makassar, 7 Oktober 2017
Love
Bunds

Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post yang diselenggarakan oleh Blogger Muslimah Indonesia . 
#ODOPOKT6

Tidak ada komentar