Ayah Bunda, Kami Menunggumu di Rumah

foto:  intisari.grid.id
“ Bunda, kapan ayah pulang?” tanya anak-anak sore itu dengan nada gusar. Hari ini memang hari ke-3 sang ayah dinas diluar kota. Dan saya sebagai seorang ibu mengerti betul kenapa mereka menanyakan hal itu. Besok akan ada acara pentas seni dan olahraga di sekolah anak-anak. Dan sang ayah sudah berjanji untuk menghadiri acara tersebut. Menurut jadwal memang malam ini beliau akan pulang. Tapi apalah daya, ternyata pekerjaannya belum selesai sehingga ia harus memperpanjang masa tinggalnya di  ibukota.
Ada sedikit rasa iba saat saya harus menenangkan anak-anak menyikapi kejadian tak terduga seperti ini. Anak-anak tetaplah anak-anak yang akan selalu mengingat janji yang terlontar untuknya. Dan kita sebagai orang dewasa, sudah berapa kali mengingkari janji janji itu?
Saya merasakan sendiri betapa kaki kecil mereka tertatih mengikuti ritme kehidupan kita saat ini.  Sarapan harus cepat-cepat agar bisa segera berangkat ke sekolah dan terhindar dari kemacetan. Sampai di rumah masih harus berjibaku dengan tugas,pr dan persiapan ulangan harian. Baru mau bermain sebentar bersama teman-temannya, tapi malam sudah menyapa. “Ancaman” jangan tidur kemalaman agar besok bisa bangun pagi pun selalu terngiang di telinga mereka.
Lihatlah ayah dan bunda, kehidupan anak-anak terutama di kota besar saat ini sudah hampir seperti robot. Dengan kemajuan tekhnologi yang juga tak mungkin kita bendung, kehidupan mereka sangatlah kaku. Hampir sama dengan kita bukan? Kita yang selalu dikejar waktu, dikejar dateline dan diburu aneka kegiatan yang menumpuk.

foto : abiummi.com
Masih ingatkah kapan terakhir kali ayah bermain bola bersama si kakak? Masih ingatkah kapan ayah menyisir rambut gadis kecilnya sambil bercerita tentang kisah putri salju? Kapan anak-anak tidur dalam penuh kesadaran bahwa kita ada disampingnya?


Dulu, sayapun bekerja. Mengagungkan selembar kertas ijazah dan beberapa bukti penghargaan atas kemampuan saya. Tapi melihat pasangan saya juga memiliki kesibukan yang luar biasa, akhirnya saya kembali ke rumah. Ya, saya kembali ke rumah. Mendampingi buah hati kami tumbuh dari hari ke hari. Karena saya masih percaya pendidikan yang pertama adalah di dalam rumah, melalui tangan seorang ibu.           Jangan tanyakan kemana saya gantung mimpi dan cita cita saya. Jikalau saya tidak bisa mewujudkannya sendiri, saya selalu berdoa anak-anak saya akan mampu menunjukkan keberhasilannya sebagai wujud dari mimpi saya yang tertunda.  Aamiin.
Lalu, jika sekarang banyak kejadian bullying, tindakan kriminal yang dilakukan anak-anak, narkoba,  pergaulan bebas dan tindakan pornoaksi bahkan sampai ada kejadian anak bunuh diri, siapakah yang harus disalahkan?
Ayah dan bunda jangan pernah lengah mendampingi anak-anak kita. Jadilah sahabat baginya. Ayah dan  bundalah yang memiliki kesempatan banyak untuk mengisi ruang hatinya dan menumbuhkan emotional inttelegent1 mereka. 
Memupuk mereka dengan landasan spiritual2 yang kokoh sejak dini. Kesibukan ayah bunda diluar harus sebanding dengan kasih sayang dan perhatian nyata kepada sang buah hati. Pulanglah ke rumah sebagai sahabat mereka. Ajak mereka bertukar cerita dalam kebersamaan.
Miris hati ini saat melihat anak-anak usia sekolah sudah bisa berkata-kata kasar, tidak sopan,tidak senonoh bahkan kepada orang yang lebih dewasa melalui fasilitas chat ataupun komentar di media sosial. Ini juga sebagai pengingat kita sebagai orangtua untuk tetap mengedepankan sopan santun.
 Mungkin setelah ini ayah bunda bisa mulai periksa gawai yang ananda pegang . Cek juga akun media sosial yang mereka gunakan untuk mengetahui sejauh mana pergaulan anak-anak kita. Semoga mereka selalu berada di jalan yang baik dan benar ya. Tumbuh menjadi pribadi yang bermanfaat dan berakhlak mulia.
Selamat mendampingi buah hati, mereka menanti ayah bunda di rumah  

----------------------------------

1) Kecerdasan emosional (bahasa Inggris: emotional quotient, disingkat EQ) adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya. Dalam hal ini, emosi mengacu pada perasaan terhadap informasi akan suatu hubungan.wikipedia
2)Kecerdasan spiritual (bahasa Inggris: spiritual quotient, disingkat SQ) adalah kecerdasan jiwa yang membantu seseorang untuk mengembangkan dirinya secara utuh melalui penciptaan kemungkinan untuk menerapkan nilai-nilai positif.wikipedia

Artikel ini ditulis oleh Dhika Suhada, seorang ibu rumah tangga berlatar belakang ilmu public relation, PAUD dan teknik industri. Saat ini menekuni dunia menulis sebagai media berbagi ide dan opini. Tinggal di Makassar.  Email : dhika. suhada@gmail.com. Facebook dan Instagram : dhika suhada. Blog: www.dhikasuhada.blogspot.com.


Tidak ada komentar